Jumat, 31 Januari 2020

ES KRIM KEBAHAGIAAN

Di suatu sore yang hening, hening yang memilukan, angin berhenti berhembus, burung tak lagi berkicau, dan langit yang perlahan-lahan didatangi awan hitam kelam penuh dengan kepastian bahwa saat itu akan turun hujan. Duduk termenung di ujunag gunung, melamun dengan suara tangisan sendu yang begitu pelan namun menusuk bila didengar. Gunung Merbabu, disanalah Gai melarikan diri, melarikan diri dari segala cobaan Tuhan yang menhujam dirinya. Bertubi-tubi dan bertubi-tubi dia terima semuanya. Namun sekarang, dia sudah mengaku kalah. Bendera putih sudah dia angkat. Hanya saja kali ini Tuhan sedang berbaik hati padanya. Gai saja yang belum menyadari bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh Tuhan sedang menunggunya.

Hari Jumat, hari kesukaan Gai. Gai sedang berada di taman kampusnya membaca buku tentang bagaimana menjadi orang yang sabar. Kampus Gai, kampus bulan sabit, menuntuk para mahasiswa dan mahasiswinya berfikir dengan keras setiap saa. Para dosen juga tanpa ampun memberikan tugas yang banyak dan berat. Mumpung waktu menjunjuk pukul 10.00, saatnya untuk beristirahat. Gai memanfaatkannya untuk melepas segala beban pikirannya dengan membaca buku "Bagaimana orang sabar menghadapi cobaan." Tetapi tiba-tiba Gai menjadi sangat sebal ketika dia mencapai halaman 128. "Apa-apaan ini, cara untuk tetap tabah menghadapi masalah adalah mengalah??!!!, aku sudah sering ngalah tapi tetep aja ga selesai masalahku tuh!! dasar buku omong kosong!!" Dengan marah, Gai melempar sembarang buku tersebut. "Buk" Alangkah kelrasnya buku itu menimpuk Rena, sahabata Gai. Gai pun langsung berlari seperti peserta lompa olompiade menghampiri Rena. "Maaf Rena, kanda tidak sengaja membuat pusing kepala didnda, aadakah yang perlu kanda operasi? wkwkwkw." Gai menganggap bahwa sahabatnya itu baik-baik saja sehingga Gai malah hanya berguruau saat bertemu Rena yang mulai memarahi, mencaci maki dan menyumpahi Gaipun bergema dengan amat kerasnya diiringi dengan hembusan angin yang sangat kencang. Pagi itu juga, Rena memutuskan persahabatannya dengan Gai.

Jadilah sore ini, sekian lama berlari dan berlari, Gai sampai pada puncak Gungung merbabu. Dengan terisak-isak dia berteriak, 'KENAPAA!!, KENAPA COBAAN SELALU DANTANG PADAKU YA TUHAN, AKU... AKU SUDAH TIDAK SANGGU LAGI TAU!! KAU MEMANG MEMBENCI HAMBAMU INI YA! Pecah sudah tangisan Gai seiring langitpun menumpahkan setetes demi setetes air hujan hingga akhirnya menjadi hujan yang amat deras. Gai tersungkur di tanah sambil terus menangis.
ia dengan perlahan mendekati Gai yang tengah bersedih. "Ja,,, janym Rena, kamu ngapain ke sini, berteduh cepat sana! Gai amat terkejut ternyata Rena mengikutinya hinggi ke sini. Perlahan Rena membuka payung bintang nya dan mengambil sepotong es krim dari bungkusan yang ia bawa. "Ini untukku?, terimakasih Ren." Es krim adalah hal yang sangat disukai Gai, disaat Gai sedang sedih, dia selalu membeli es krim untuk menghibur dirinya. Tapi kali ini sangat berbeda, ketenangan dan kegembiraan yang ia rasakan sangat mendallam. Tetapi, es krim itu terjatuh dari gengamannya. Dua shabat itu tertara bersama. Inilah yang diinginkan Gai. Kehangatan yang ia dambakan

Malam hari yang dingin, membuat orang lain betah mendekap di kamarnya masing-masing. Namun hal yang sama tidak dilakukan oleh Gai. Dia malah sedang berada di teras rumahnya hanya dengan kaos oblong berwarna putih polos. Menanti janji kehidupan yang lebih bai. Besok dan besoknya adalah hari Sabtu dan minggu, itulah mengapa Gai sangat menyukai hari jumat. Hari Jumat, hari dimana semua kepenatan dapat dibuang jauh jaih untuk sementara. Semua akan terasa sempurna dalam tiga hari ke depan

2 komentar: